gravatar

Cerita Sex - Tante girang ganas part 1

Sebut saja namaku Fandi, selepas masa sekolah SMA,aku ingin melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi, namun apa mau dikata, orangtuaku yang hanya bekerja sebagai karyawan sebuah perusahan BUMN yang tergolong kurang bonafid (sorry Be, bukan nyepelein) membuat keinginanku melanjutkan pendidikankupun sirna. "Jangankan buat elu kuliah Tong, buat makan aja kita musti banyak2 ibadah !", puasa senin-kemis maksudnya !, puasanya senin buka-nya kemis !, hiks....


Akhirnya aku mengambil jalan pintas (bukan jalan tikus, ato gang2 kecil maksudnya) dengan mengikuti kursus komputer yang berada di kotaku, selesai kursus aku mencoba untuk mengadu nasib dengan melamar pekerjaan disebuah perusahaan konsultan keuangan.


Setelah melewati proses seleksi penerimaan karyawan (sampe disuruh2 push up dan berlari2 kecil), akhirnya aku diterima diperusahaan tersebut, dengan syarat aku mau ditempatkan dikota yang ditunjuk oleh perusahaan selama beberapa tahun.


Aku menjadi bimbang, antara mencari kerja ditempat lain atau menerima pekerjaan dengan syarat

ditempatkan diluar kota yang mungkin aku belum pernah menginjaknya, Ditengah kebimbanganku itu, aku menceritakan hal tersebut kepada kedua orangtuaku. akhirnya orang tuaku menganjurkan aku untuk mencobanya, "Kamu coba aja dulu, kalo kamu tidak betah, toh kamu bisa keluar dan mencari lagi !" saran bapakku (ya kalo dapet, emang nyari kerja gampah apah ?).
akhirnya dengan tekad yang setengah bulat (kalo telanjang bulat, ntar dibilang orang gila) aku memberanikan diri untuk menerima pekerjaan tersebut. Akhirnya aku ditempatkan di kota B, yang letaknya jauh dari kota asalku. Aku menceritakan hal ini kepada orang tuaku, dengan antusias mereka mengatakan bahwa dikota ini ada saudara sepupu ibuku, dan kedua orangtuaku menyarankan agar aku sementara tinggal dulu dirumah sepupu ibuku tersebut.

Aku mulanya ragu, bagaimana aku harus tinggal dirumah orang yang aku belum mengenalnya sama sekali ?, Ibu dan Bapak menasehatiku dan berpesan supaya aku pandai "Menitipkan Diri" di rumah yang aku tinggali nanti. akhirnya, aku pada waktu yang telah ditentukan berangkat menuju kota B dengan segudang tanda tanya yang menggelayutiku.... (bukan toket...gelayutan, ntu mah nanti gw ceritain !)


------


Tertegun aku menatap rumah didepanku, bukan serem atau angker, tapi mewah banget, gede, halaman luas ada pohon cemaranya lagi, (tau pohon cemara gak ?, itu.. yang kaya disinetron2 orang kaya, bukan pohon beringin yang dipilem2 horor !, tempat burung kutilang bernyanyi...)


Setelah memencet bel cukup lama, tampak seorang wanita setengah baya berlari tergopoh-gopoh (pasti ngebayangin toketnya gondal-gandul deh, …gak yee... tipis banget tuh dadanya) mendekati pagar pintu yang cukup tinggi dan runcing ujungnya itu, (kaya senjatamya tentara keraton).


"Cari siapa ya ?" kata wanita itu dengan mimik gimanaaa gitu...

Set Dah nih ibu, udah tampangnya cakep enggak, jelek enggak, (serem tapi !), memandangku curiga menatap penuh tanya... (kaya lagunya obbie mesakh, yang sekarang susah cari kasetnya).

"Ibu ada ?" Tanyaku,

"Ibu Siapa ?" Sahutnya lagi, dengan muka yang sok di tegas2in.
"eeeeee..... Bu Mala " kataku pelan dan Ragu.
"Ini Den Fandi ?" tanya ibu itu tegas, namun tidak lugas dan dapat dipercaya, kaya guru lagi nanyain PR kita kalo kita lagi males ngerjain. "Iya Bu " jawabku lirih, sambil menunduk dan melihat kuku tanganku, takut diperiksa kalo ada yg item.

"Masuk Den, Ibu udah nunggu dari tadi " katanya sambil cepat2 membuka gerendel pintu dan cepat2 merubah mimik mukanya yang tadi keliatan seperti suster ngesot menjadi seperti tamara, padahal jauh banget, malah lebih mirip mpok nori.


Perlu diketahui pembaca, biar jelek2 gini aku juga masih ada darah ningrat, di akte kelahiranku,

namaku aja depannya ada huruf R terus dikasih Titik, (artinya Raden bukan Robin temennya Batman), emang masih musim ? pake raden2 segala ?, bangga campur malu sih kalo pas diabsen dan dipanggil Raden, semua menengok ke arah aku, ngarepin, kalo yang nunjuk tangan pake jubah dan diatasnya ada mahkota, dan dipergelangan tangannya minimal ada gelang emaslah barang beberapa gram, gak taunya, yang ngacung gw, udah jelek, kucel, mana tangannya busikan lagi, rada2 nyesel sih mereka nengok, bikin pegel leher aja !. kalo ada yang mau pengen aku jual aja nih, gelar raden aku. he.. he...


Aku mengikuti wanita itu, yang kelak aku tahu bahwa dia adalah satu2nya pembantu dirumah ini, Bi Iyem, begitu ia dipanggil, menginjak usianya yang mendekati 50 tahun, hidup tanpa menikah, menurutnya, ia pernah menikah, tetapi suaminya pergi meninggalkannya karena tidak kunjung dikaruniai anak. Alasan klise, pembenaran terhadap kesalahan, daripada tinggal dikampung bengong dan tanpa ada yang mengurus lebih baik ia kerja di kota sebagai pembantu. lumayanlah, itung2 dapat makan, tidur gratis dan lebaran bisa mudik, desek2an di bis, kali aja nemu jodoh (ngarep !!!), dengan membawa oleh2 buat sanak sodara dikampung.


Dengan tampang udik (katro, ndeso), aku menatap ruangan dalam rumah yang serba mewah itu. "Silahkan duduk Den, tunggu sebentar, ibu baru selesai mandi, Nanti Bibi bilang ke Ibu, Aden sudah datang" kata Bi Iyem sambil mempersilahkan aku duduk di ruang tamu.


Tak lama, seorang wanita datang menghampiriku, "Ini Fandi ?" sahutnya sambil senyum, aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, "Kamu sudah besar, terakhir kali Tante melihatmu, kamu masih SD kali ya ? " sambil memelukku dan mencium pipiku kiri kanan, (mudah2an gak disomasi dan ditegur kaya tukul). Kaget aku dengan perlakuannya yang ramah ini dan berusaha membalas cipika-cipiki beliau.


Wangi beneeer, abis mandi, parfumnya aja asli import, yang kalo disemprotin dibadan, wanginya baru ilang besok, emang elo yang kalo pake parfum seketemunya, kalo pas lagi nebeng mobil temen, liat pewangi mobil maen semprot2 aja ke badan, yang ada wanginya nyebar seruangan kaya abis disemprot foging nyamuk, mendingan wangi kuburan baru, kembang tujuh rupa.


"Gimana kabar Bapak dan Ibu kamu disana ? " tanyanya, dan semua pertanyaan2 basa basi pun diajukan olehnya, (gak perlu semuanya kan harus diceritain pembaca ?, bisa pegel nih gw ngetik, ini aja udah ngos2an). Setelah kurang lebih beberapa jam kami berbasa basi ria (lama amat sih ? emang ngobrolin apaan aja sech ? cape dech !).

"Kamu Istirahat aja dulu, mungkin kamu capek sehabis perjalanan" kata Tante Mala kemudian, "Bi Iyem udah menyiapkan kamar untuk kamu, Tante sore ini mau senam dulu, nanti pulang sebelum magrib, kalo kamu mau makan, makan aja dulu, nanti kita sama2 makan malam ya ?", lanjut Tanteku, "Iya Tante, saya tadi sudah makan, mungkin mau tidur2an aja dulu" sahutku menjawab.

Sang Tante pun mempersilahkan aku untuk menempati sebuah kamar yang berada paling belakang dilantai atas rumah tersebut, perlu diketahui bahwa kamar dirumah ini semuanya ada 5 dan hampir semuanya berada di lantai atas, hanya satu kamar dibawah untuk pembantu, satu kamar ditempati oleh Tanteku itu dan 2 Kamar lain ditempati oleh anak-anaknya. Aku menempati kamar belakang yang menghadap taman dan kolam renang. Waw, tempat yang strategis. didalam kamar layaknya hotel berbintang, kasur yang empuk dan lebar cukup buat 2 orang, televisi 21", ada Video Tape Playernya lagi. mantaap... (Jaman ntu belom Ada DVDlah, jangankan DVD, VCD aja belom ada!).


Mungkin karena lelah, aku langsung merebahkan badanku dan tertidur lelap....


Jam 7 lewat aku dibangunkan Bi Iyem, "Den.. Den... Bangun Den..." terdengar suara Bi Iyem memanggilku sambil mengetuk2 halus pintu kamarku (bukan gedor2lah... emangnya lagi digerebek di hotel ?), "Sudah ditunggu sama Ibu dibawah untuk makan malam " sahutnya kemudian, "Iya Bi, sebentar lagi saya kebawah, saya mau mandi dulu !" jawabku, berusaha untuk bangun, berjalan dan membuka pintu. Aku pun langsung mandi dengan menggunakan Kamar mandi yang letaknya didepan kamarku, juga merupakan kamar mandi yang sering dipakai oleh anak2 dikeluarga ini, sedangkan Tante Mala menggunakan kamar mandi yang berada didalam kamar beliau.

Selesai mandi, aku menuju ke ruang keluarga dan ruang makan dan disana telah menunggu 4 orang yang kesemuanya perempuan dan cantik2, salah satunya adalah Tante Mala, dan aku lalu dikenalkan oleh Tante Mala kepada ketiga putrinya. "Fandi, ini anak2 Tante, kmu mungkin belum mengenal mereka semua, karena memang mungkin dulu sekali waktu kalian masih kecil2 tante masih suka mengajak anak2 tante berkunjung ke keluarga, tp karena mereka sudah besar, susah sekali mengajak mereka" tutur Tanteku. "Om Mirza kebetulan sedang diluar kota, mungkin baru minggu ini om kamu kembali, jadi beginilah disini, kalo om kamu tidak ada, ya tidak ada lelaki dirumah ini " sahutnya kemudian.

Tante Mala, merupakan sepupu ibuku, satu kakek, lain ibu lain ayah (ya namanya juga sepupu, kalo satu ibu satu bapak, sodara sekandung lah), menikah diusia 18 tahun, diumurnya yang mendekati 38 tahun, dikaruniai 3 orang anak, semuanya putri dan cantik2 seperti ibunya, yang tertua Moza 20 thn, yang kedua Mita 18 tahun dan si bontot.... Mumun (lah kok, jauh amat ? mumun, ky nama tukang pecel ?) bukan deng, yg bontot namana Maya, masih SMA 17 Tahun.


Om Mirza, suami Tante Mala, berusia 48 tahun, selisih 10 tahun dengan Tanteku, orangnya ganteng, dengan kumis tebal yang makin membuatnya tampak wibawa, sebagai pengusaha kontraktor pekerjaan sipil yang cukup sukses dengan proyek2 pemerintah. Karena kesibukannya, bisa dibilang ia jarang dirumah, kadang pergi pagi - pulang malam, kadang pergi malam - pulang pagi, kadang pergi lama, bisa 1 sampe 2 bulanan - baru pulang, kadang nganggur dirumah lamaaa - gak pergi2 (kalo lagi gak ada proyek), tapi dia gak pernah sih yang namanya pergi tiga kali puasa, tiga kali lebaran (ntu mah bang Toyib!).


Dalam usianya yang menginjak paruh baya, Tante Mala tidak menampilkan sosok sebagai wanita yang keibuan (kaya ibu2 maksudnya), malah ia lebih nampak sebagai wanita feminin, dengan dandanan yang lebih nampak sebagai wanita gedongan kebanyakan, emangnya emak kite, baru umur 40 taon aja udah kaya umur gocap, boro2 buat beli lipstick, buat beli beras aja udah susah, sukur2 ada uang lebih belanja, kembalian mecin, bisa beli pupur buat bedak, Penampilan Tante Mala memang jauh menggambarkan dari umur sebenarnya. Tepat ditengah ruang keluarga dipajang foto keluarga mereka berlima, Sang Ayah duduk dibangku dan berdiri dibelakangnya 4 wanita cantik layaknya dewa yang dikelilingi oleh 4 bidadari, dan yang mengherankan aku, Tante Mala nampak seperti kakak dari putri2nya, cantik beneeer.


Mungkin untuk menjaga kebugaran dan biar keliatan selalu awet muda, tante Mala rajin merawat tubuhnya, ikutan senam seminggu 2-3 kali, ke Spa seminggu sekali, ke salon semau dia, belum lagi berenang yang tinggal nyebur, yang jelas, uang ada semua ada. Emangnya kita, boro2 ke salon, buat nyukur aja (potong rambut) selama masih ada temen yang bisa nyukur, ya kita manfaatin, dengan modal gunting ma kaca spion bekas, trus nyari tempat yang adem, ya jadi lah kita nyukur, duit buat nyukur lumayan kan bisa beli udud setengah bungkus, Ada kembalian duit logam 2 ratus perak, pas bener buat iseng nyabutin jenggot sambil sesekali besiul godain cewek yang lewat !.


Duh cantik2 bener mereka, sambil mengenalkan diri aku memandang mereka satu persatu, sudah ibunya cantik bapaknya cakep dan ganteng, kaya, yaa pantaslah mereka seperti ini, jadi iri, hehehe.... menunduk malu, yaa maklumlah, tampang gw pan pas2an.. masih untung idup, boro2 berani naksir cewek, masih sukur waktu godain cewek, mereka cuma melengos aja, coba kalo diludahin.. ancurrrr dah, maklumlah, aku kan gini2 juga masih keturanan indo, Indo Jerman, Ibu Jereng Bapak Preman.... hehehe...


Akhirnya suasana pun menjadi akrab, pembicaraan demi pembicaraan mengalir dengan lancar, karena mereka jauh lebih muda dari aku, mereka memanggilku dengan panggilan "Aa" yang artinya kakak. Kaya Aa Gym gituh .. hehehe.. Selama makan malam, banyak pembicaraan yang terjadi, dan aku berusaha untuk mendalami mereka satu persatu (mendalami maksudnya disini artinya memahami karakter dan sifat mereka, bukan mendalami yang itu !!!).


(Seriusin ah ceritanya.....)




Tante Mala, lama-lama kalo kuperhatikan, wajah mirip seperti wajah artis Vina Panduwinata, dengan alis tebal, hidung yang bangir mancung, bibir tipis sensual, pipi halus, rambut panjang sebahu lebih sedikit, ikal bergelombang, tinggi sekitar 158 cm, dengan payudara yang cukup besar menurutku, mungkin dengan lingkar dada 36 dan bercup C, karena dengan mengenakan baju senam, dengan belahan dada yang cukup rendah, selain mengambarkan lekuk tubuhnya yang membuat setiap mata lelaki melotot dan seakan tak mau lepas memandangnya.

Pabrik susu didadanya, layaknya seperti mau tumpah. putih, ranum, dan tampak masih kencang untuk wanita seusianya, dengan mengenakan Bra yang terlihat kokoh melindungi, namun seakan tidak muat menampung seluruh Isinya, bikin jantung deg.. deg.. serrr..... Dan yang lebih membuat pikiranku merantau keawang-awang adalah bentuk pinggul dan pantat beliau, begitu indah, dengan pinggang kecil dan pantat bulat penuh, songgeng seperti bebek seakan mengajak setiap lelaki untuk mengikuti dari belakang kemanapun dia pergi.



Moza, diusianya yang baru menginjak 20 tahun, kuliah tingkat tiga di sebuah PTS ternama, tampak seperti gadis dewasa dengan tubuh tinggi semampai, sekitar 168cm (kayaknya aku kalah tinggi deh, aku cuma 163 cm, maklum lah.. kurang gizi ma keturunan yang kurang bagus .. hiks), tubuh sintal padat, semok, bohay, kenceng deh... mirip seperti sang ibu dengan bentuk payudara yang indah dan menantang.

Dengan wajah yang melankolis, alis tebal, bentuk mata yang bulat dengan sorot mata jernih, dan dilengkapi dengan bibirnya yang tipis merekah, dengan lisptick tipis membuat wajahnya semakin tampak menarik, dengan rambut panjang sedada, bulu2 halus menjalari seluruh tubuhnya terutama dibagian lengan dan kakinya, tampak eksotis, membuat cowok-cowok ingin mendekatinya dan memacarinya dengan segala cara. yang bikin lengkap adalah bentuk pantatnya yang mengikuti jejak sang ibu, duh.. pusing deh...
apalagi ketika melihat dia dengan celana pendek ketat. bawaannya yang kalem, lembut, penuh kedewasaan, orang tak akan menyangka kalo dia masih berumur 20 tahun, orang pasti akan menyangka dia berumur 24 ato 25 tahun.



Mita, Mahasiswi tingkat pertama sebuah kampus pariwisata terkenal, dengan potongan rambut pendek seleher, muka berbentuk oval, hidungnya yang bangir bulat, bibirnya tipis agak lebar seperti penyanyi rosa memperlihatkan sifatnya yang murah senyum, periang, seperti layaknya anak mahasiswi seusianya. tinggi 160cm, dengan berat yang lumayan menurutku, namun jelas memperlihatkan kemontokan dan kemolekan tubuhnya, ditambah lagi dengan gaya berpakaian yang tampak super cuek, kuliah dengan menggunakan baju seragam yang cukup tipis dengan rok lebih dari 10cm diatas lutut, seperti dianjurkan kampus, dan sering tanpa menggunakan kaos dalam, jelas mengundang mata cowok2 untuk lebih menyelami isi dada dari cewek ini, cekakak-cekikik ditelpon merupakan kegiatan rutin sehari-harinya.




Maya, si bungsu yang masih kelas 3 SMA, layaknya anak2 ABG, selalu ingin tahu bagaimana rasanya menjadi cewek dewasa, dengan rambut panjang namun sering diikat, mata bening yang selalu kelihatan malu2 apabila bertatapan dengan cowok. Untuk cewek seumuran dia mungkin kelihatan bongsor, dengan tinggi yang hampir menyamai kakaknya, 160 cm kurasa, namun dengan badan yang cukup ramping, kalo dilihat dari belakang mungkin orang akan menyangka dia adalah seorang wanita dewasa, dan herannya dia memiliki payudara yang menurutku besar, lebih dari ukuran normal untuk anak2 seusianya, namun wajahnyalah yang tidak bisa menipu, kepolosannya memperlihatkan bahwa dia masih ingusan diperlihatkan dengan tingkahnya yang tidak bisa diam dan kadang kecentilan....


malam itu, mungkin karena keasyikan ngobrol, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 9 malam, Mita dan Mona, undur diri terlebih dahulu, karena mereka besok harus berangkat kesekolah pagi, berangkat dari rumah jam 6 lewat, sedangkan sang kakak dan Ibu masih menemaniku ngobrol sambil menonton televisi di ruang keluarga, tak lama kemudian Tante Mala meninggalkan kami berdua, Aku dan Moza.


"Fan, tante tinggal dulu ya, mau mandi dulu nih, tadi abis senam keringetan, jadi badan tante lengket, kamu terusin aja ngobrol dengan Moza, tapi jangan terlalu malam, kan besok kamu sudah mulai kerja dan Moza juga harus kuliah " kata beliau kepadaku, "Iya, Tan mungkin saya sebentar lagi, maklum Tan, tadi siang tidur, jadi belum ngantuk nih !" sahutku, "Iya mah, lagian Moza juga besok kuliah siang, nanti kalo dah ngantuk juga Moza tidur" menimpali Moza, "Ya udah kalo gitu, Mamah duluan" berkata Tante Mala.


Akhirnya tinggallah kami berdua, mengobrol sana-sini ngalor ngidul, nyerempet soal kuliah, sampai soal pacar, Moza mengaku padaku bahwa saat ini ada mahasiswa seniornya yang PDKT kepadanya, ia masih mikir-mikir, karena saat ini ia masih terikat oleh pacarnya semasa dari sekolah SMA dulu, dan pacarnya itu sedang melanjutkan kuliahnya di Luar Negeri. Antara kesepian karena merindukan sang kekasih nun jauh disana dan keinginan untuk berpacaran normal seperti teman2nya yang lain, yang diapelin malem minggu. duh enak juga ngobrol ma adik sepupuku ini, (ya ujung2nya mah sepupulah, kan gw ma dia masih sodaraan... Week !)


"Kalo Aa sendiri gimana ? Kasian dong pacarnya disana sendirian, aa kerja disini" sambil cengar-cengir dia menanyakan soal itu padaku, "Duh ini dia yang gw takutin.. nyampe juga nih pertanyaan ke gw !, nyesel gw pake nanya2 pacar segala ke dia" gerutuku dalam hati, tapi bukan Fandi namanya kalo gak bisa jawab soal ginian, "Ya gitu deh Moz, palingan juga kalo kangen ditahan2 aja, kalo udah kangen banget palingan Aa telp dia, terus kalo udah kangen berat, pas kebetulan punya duit, ya Aa baliklah pulang dulu.. ! hehehehe... " jawabku sekenanya...padahal boro2 gw punya cewek, cewek darimana pula ?, mana ada yang mau ma gw, udah muka gak ada bagus2nya, badan pendek, kecil, jauh deh dari idaman, paling banter cuman dapetin cewek pembantu tetangga gw yang suka gw isengin kalo lagi pas buang sampah, ntu juga sambil pura2 kerja bakti, dan pura2 gak sengaja nyikut toket tuh pembokat... huakakakak....


Akhirnya moza rupanya juga gak tahan, tak lama kemudian ia pamit padaku untuk masuk ke kamarnya, aku menggangguk kepadanya dan berkata "ya udah kalo kamu dah ngantuk, Aa nanti aja sebentar lagi, belum ngantuk nih, gara2 tadi siang tidur, orang biasanya gak pernah tidur siang". tak sengaja mataku mengikuti langkah Moza menjauhiku, lekuk tubuhnya jelas terbayang dengan T-Shirt putih tipis dan celana pendek hawaiinya, bentuk kakinya yang jenjang seolah terus membayangi mataku. Duh seandainya aku punya cewek seperti dia.. gak akan deh gw sia-siain, kalo perlu gw kacain biar gak kena debu... sayang ah..ntar kalo pas nikah, kalo bisa, tamu-tamu gak gw kasih salaman. takut kotor.... xixixixixi....


Beberapa saat kemudian, bete juga aku sendirian nonton televisi di ruang ini, ah mendingan aku terusin aja nonton dikamar, mulanya memang aku sejak semula ingin menonton televisi dikamar, tapi aku kemudian berpikir, jangan2 mereka semua terganggu akibat berisik suara televisi dikamarku, akhirnya kumatikan juga televisi diruang keluarga.

Dengan pelan (tapi pasti) aku melangkah menuju ke kamarku, menapaki anak tangga, lampu koridor nampak redup, hanya lampu2 kecil saja yang dinyalakan, lampu kristal ditengah ruangan sudah dimatikan, hingga hanya cahaya temaram saja yang menyinari seluruh ruangan. Selesai Melewati Tangga, beberapa langkah di depan sebelah kanan adalah kamar Tanteku, 'Loh kok kamarnya tidak ditutup ?', aku berjalan pelan melewati kamar tidur Tanteku itu, berat rasanya agar kepalaku tidak menoleh kedalam ruangan itu, berusaha untuk melawan kehendak untuk tidak mengarahkan mataku, namun apa daya, ada sesuatu yang mengarahkan kepala dan mataku, keinginan yang lebih kuat.

Ada celah kurang lebih 15 cm yang antara daun pintu dan kusen pintu, namun itu cukup membuatku dapat melihat setengah dari isi kamar, kulihat Tanteku tergolek di tempat tidurnya dengan kepala mengarah ke pintu, dan kaki diujung sana, dengan daster putih, tampak tertidur pulas, ah... mungkin beliau kecapekan, kulihat tv masih menyala dengan suara pelan. uhh.. aku terdiam sesaat dan tertegun menatap tonjolan dadanya dengan belahan yang tampak terlihat jelas menggunung.


duh.. jadi bangun nih si dede, gak tahan aku melihat pemandangan seperti itu, dan mungkin juga agak takut aku, khawatir ada yang melihat aku berdiri di depan kamar Tanteku, ntar disangka mau ngapain lagi ? akhirnya aku kembali berjalan, menuju ke kamarku, kulihat kedua kamar sebelah kanan kiriku lampunya telah padam, mungkin mereka telah tertidur pulas. Segera aku merebahkan diri di ranjangku, entah mengapa bayangan Tanteku terus menempel di otakku, gak mau pergi... dan celakanya si otong gak bisa diajak kompromi, malah berdiri terus, otakku jadi ngeres... duh masa hari pertama gw musti colai (masturbasi/ngeloco) sih ? bisa2 besok pagi gw loyo...bisa kacau nih kerja hari pertama...


Pagi hari, sudah tampak kesibukan dirumah itu, terbangun aku karena mendengar teriakan2 dari Mita dan Maya, biasa dirumah denger suara burung pagi2, disini malah dengar teriakan orang !, bangun aku dari ranjang, duduk, kulirik jam menunjukkan pukul 6.25, mataku menatap lurus ke arah cermin, “Set dah, jelek banget gw yak ? udah muka kucel, beminyak, rambut awut2an, bau lagi !.bisa2 kalo ketemu cewek2 dibawah, mereka pada melengos, kalo mereka jelek sih masih bisa cuek, kita bisa bales melengos lagi sambil buang dahak, nah ini kan cakep2, bisa makin minder kita.

Jadi inget kalo dirumah, bangun langsung ke dapur, bikin kopi. Sementara antri nungguin kamar mandi kosong, ngopi sambil ngudud sebatang, sukur2 ada singkong goreng atawa pisang goreng, begitu perut udah agak berat en pantat kaya ada yg pengen ngedesek keluar, buru2 masuk kamar mandi. Kalo bangun telat, nyeruput kopi punya babe, terus langsung masuk kamar mandi, pake baju, berangkat sambil ngisep rokok dah.

Selesai mandi dan berpakaian, aku menyiapkan tas dengan isi berkas2 yang sekiranya mungkin nanti diperlukan pada hari pertama kerjaku ini, setidaknya aku harus menimbulkan kesan pertama yang baik. Beberes kamar sekenanya, toh mungkin nanti bi iyem juga akan membereskannya lagi, yang penting gak keliatan berantakan banget.
Aku berjalan menuju lantai bawah, kulihat Bi Iyem sedang berdiri disamping meja makan, sambil memegang piring, dan menaruhnya dimeja (bukan lagi marah2 mo ngelempar piring !, emang bini elo, kalo curiga elo gak pulang semalaman !)

Kulihat Tante Mala sedang duduk dimeja makan, belum mandi tampaknya, masih pake daster yang semalam kulihat, kusapa beliau, “Pagi Tante”, kataku, “Pagi Fandi, kirain kamu belum bangun, baru aja Tante mau menyuruh bi Iyem bangunin kamu, kamu malah sudah rapi”, sahut tanteku. “emangnya kmu masuk jam berapa ?” tanya tanteku. “Masuk jam 8 Tan, cuma saya sekalian pengen ngukur waktu aja, takut telat. Kata Moza sih, waktu kami semalam ngobrol, sekitar setengah jam dari sini Tan, tapi jaga2 aja takut macet” jawabku lagi, “Ya udah, kamu sarapan aja dulu, masih lama kok, belum juga jam 7” kata tanteku lagi sambil menyuruhku duduk disebelahnya.




Sambil menarik kursi, selintas mataku melihat kearah tanteku, duh belum mandi kok cakep banget sih, malah menunjukkan penampilan aslinya. Segar, putih, mulus, jelas terpancar dari wajahnya, namun yang bikin aku ingin menatapnya lama-lama adalah belahan dadanya itu, ampun mak, rasanya pengen nyomot aja, jadi inget kue apem yang dijual mpok Ros di ujung gang rumahku. Cepat2 aku alihkan pandanganku darinya, menatap ke arah meja makan. Daripada nanti si Dede bangun, trus pamitan masih ngejendol gede celana gw, mendingan gw tahan dulu deh.



Begitulah awal cerita aku mengenal keluarga tanteku itu, hari demi hari kulalui, semuanya terasa biasa, kami menjadi semakin akrab. Tante Mala sudah menganggap aku sebagai anaknya, dan anak-anak Tante Mala juga sudah menganggap aku sebagai kakak mereka. Tak terasa 3 bulan sudah berlalu, Om Mirza pun sudah akrab denganku, kadang kami ngobrol soal keluarga, pekerjaan, hobby, dan apapun yang dirasa enak untuk dijadikan bahan pembicaraan.
Beliau serta merta juga memintaku untuk menjaga keluarganya, maklum, kalau beliau sedang pergi untuk urusan bisnis kadang sampai beberapa minggu, dirumah ini hanya akulah laki-laki satu2nya.

Keakrabanku dengan Tante Mala layaknya sebagai anak dan ibu, tak sungkan beliau memintaku untuk menemani dan mengantarnya ke tempat yang dia inginkan, hanya untuk sekedar belanja, atau ke rumah teman beliau, arisan. Begitu pula dengan anak2 mereka, kadang kami ngobrol di ruang keluarga beramai-ramai, saling cekakak-cekikik, saling menggoda satu sama lain. Bisa dibilang keberadaanku dirumah itu juga menambah suasana baru bagi keluarga Tante Mala.

Pekerjaan yang kujalani banyak menuntut waktu dariku, kadang aku pulang larut untuk mengejar deadline pekerjaan klien. Kadang aku juga bisa pulang cepat apabila pekerjaanku telah selesai sebelum deadline. Waktuku lebih banyak dihabiskan di kantor, apabila libur atau weekend, aku lebih sering berada dirumah, sekedar membantu beberes rumah, atau memperbaiki sesuatu yang dirasa lebih baik yang mengerjakannya adalah seorang lelaki.

Hari Jumat, jam 1 siang , aku pulang cepat, siang itu memang terik sekali, panas menerpa, malas rasanya aku mikir untuk mengerjakan tugas yang diberikan kantor, walaupun di ruanganku menggunakan AC sepertinya tidak mampu untuk menghalangi panasnya udara.
Tiba dirumah, kulihat rumah dalam keadaan sepi, kulihat hanya satu mobil terparkir digarasi, mobil tanteku, oh ya perlu diketahui, bahwa dirumah ini mobil semuanya ada 4, satu mobil dipakai Omku, yang memang jarang ada, satu tanteku, satu untuk Moza, satu dipakai Mita, sedangkan Maya karena masih SMP belum dibelikan ayahnya, walaupun tampaknya dia sudah mahir menyetir mobil. Sedangkan aku sendiri ?, ya ngangkotlah !, emang lu kira gw siapa ?.. hehehe.. tau dirilah dikit.

aku masuk lewat pintu samping yang langsung menuju dapur, melewati pintu dapur, sebelah kanan adalah kamar Bi Iyem, pintu kamar tertutup rapat, aku menuju meja makan, menaruh tasku dan membuka tudung saji untuk melihat menu masakan hari ini. Hmm.. enak nih... sahutku dalam hati. Aku kembali melangkah ke dapur, mengambil piring dan minum, begitu berbalik hendak kembali ke meja makan, bi iyem telah berdiri didepanku, “Duh Den, kirain siapa, ngagetin bibi aja den” sahutnya sambil mengelus2 dada, “Kirain bibi kucing atau siapa, kok tumben den udah pulang ?” katanya lagi, “Iya bi, lagi males kerja nih, capek kerja mulu“ sahutku sambil tersenyum padanya. “Ya udah bi, saya makan dulu, bibi lanjutin aja istirahatnya, biar saya sendiri aja” kataku lagi.
Bi iyem mengiyakan, keliatannya dia lelah sekali, maklumlah dirumah ini hanya dia sendiri yang melayani segala kebutuhan majikannya. Sebelum aku melangkah kembali, sempat aku menanyakan kepadanya, kemana orang-orang penghuni rumah ini. “Ibu ada diatas Den, mungkin sedang tidur siang, Non Moza baru berangkat jam 12 tadi ke kampus, Non Mita dan Non Maya belum pulang sekolah den”. Jawabnya.

Biasa deh, si Mita belom pulang, palingan juga dia jalan ma cowok barunya, biasalah anak SMA, kalo gak ke Mall yang nongkrong dirumah salah satu temannya, memang kulihat si Mita akhir2 ini semenjak pacaran dengan cowok barunya, pulang selalu telat, nanti begitu dimarahin ma Mamanya, alesannya ada aja, yang bilang pelajaran tambahanlah, ekskul, belajar bersama, dsb.

Maya lain lagi, dengan badannya yang bongsor itu, ditambah dengan hobinya main basket, alesannya latihan, karena mau ada class-meeting disekolahnya, sekaligus mo ada kejuaraan antar sekolah, dah makin sore aja dia pulangnya, sekarang tuh anak kayaknya lagi kecentilan, pasti dia lagi naksir ma salah satu temen sekolahnya. Hmm, kalo mamanya tau, pasti dia dimarahin abis2an, “belom boleh pacaran kalo belum 17”, kata mamanya.

Selesai makan, aku bermaksud untuk istirahat, lumayan hari masih panjang, mungkin aku bisa tidur sampe sore nanti, sambil membawa tas yang aku taruh dimeja tadi, aku menaiki tangga menuju ruang kamarku diatas. Hendak melewati kamar tante Mala, kulihat pintu kamar terbuka lebar, memang aku tahu, bahwa Tante Mala, apabila Om Mirza tidak ada dirumah, Tanteku selalu tidur dengan pintu kamar terbuka, dan selalu teve dalam keadaan menyala, tidak siang tidak malam, alasannya takut. Dan lagi jika dia tidur, selalu pulas, seolah2 lepas beban, jangankan digoyang2 untuk dibangunkan, apalagi baru sebentar tidurnya, ada gempa bumipun dia belum tentu kebangun, sambil cengengesan si Maya pernah mengomentarinya.

Ya ampun, tertegun aku menatap kedalam kamar tante Mala, kulihat dia tidur dalam keadaan tanpa baju alias bugil, gil, hanya selimut tipis yang menutupi sebagian badannya, memang dirumah ini semua kamar tidak menggunakan AC, ya maklumlah dikota B ini, udaranya cukup dingin sehingga jarang sekali rumah2 penduduk disini menggunakan pendingin ruangan. Apabila dimusim kemarau seperti saat ini, perbedaan suhu antara siang dan malam cukup besar, siang hari udara panas menyengat namun dimalam hari suhu udara sangat dingin dengan angin yang cukup kencang.
Kuketahui dari pembicaraan sebelum berangkat kerja, beliau pagi ini hendak mengikuti senam pagi massal dan dilanjutkan dengan kegiatan sosial bersama ibu-ibu dilingkungan RW sini. Mungkin beliau tadi lelah dan kegerahan, sehingga dengan suhu udara yang cukup panas ini, untuk menyegarkan badan kembali, beliau mandi, mungkin malas memakai baju karena takut gerah kembali, maka beliau memutuskan untuk rebahan dulu, namun kebablasan pules. Celakanya, mungkin ini adalah hari baikku atau memang sedang Tante Mala yang lagi apes, baru sekali ini aku melihat dia dalam keadaan polos, kalo sekedar melihat belahan, selangkangan beliau, mungkin itu adalah santapan harian aku, kadang memang aku suka, malah sering, membayangkan tubuh polos tanteku ini. Dan hari inilah tanpa diduga dan disangka apa yang selama ini hanya berada dalam angan2ku tergambar jelas dimataku.



Entah apa yang ada diotakku saat itu, pemandangan itu membuatku berdebar, didalam hati mungkin ada rasa takut yang menghinggapi, mengajak aku untuk segera pergi dari situ, takut tanteku terbangun dan melihat aku sedang menatapnya dalam kondisi demikian, dan ada rasa lain yang melarang aku untuk pergi, serta menyuruh aku untuk menikmati pemandangan yang jarang aku lihat ini.
Sesuatu didalam celanaku semakin lama semakin membesar dan tegang, berat rasanya kakiku untuk pergi meninggalkan keindahan ini. Tangan kiriku yang sedang memegang tas kerjaku secara reflek mengarahkan tas untuk menutupi dan tangan kananku yang bebas, tanpa diberi komando sepertinya menjadi katalis untuk membantu reaksi kimia yang terjadi, dengan mengelus-elus burungku ini.
Beberapa saat semua ini kubiarkan terjadi, seperti ada keengganan untuk menghentikannya, namun tanpa diduga, kulihat badan Tante Mala bergerak, secara reflek dalam keterkejutanku aku menghindar cepat, supaya aku tidak terlihat olehnya. Bergegas aku menuju kamarku, dengan langkah tanpa suara.

Kututup pintu rapat2, dengan hati berdebar, menunggu apa yang selanjutnya terjadi, semenit... dua menit... tidak ada suara ataupun langkah2 mendekat, aku menghela napas, memikirkan semua yang baru terjadi, hmm, jangan2 Tante Mala tahu aku mengintipnya ? atau dia tidak tahu, badannya bergerak hanya sekedar merubah posisi tidur ?. ada keinginanku untuk segera kembali ke ruangan Tante Mala dan melihat bagaimana situasi terakhir, kalo beliau masih tidur kan aku bisa menikmati keindahan itu lagi ?, tapi kalo beliau sudah bangun dan melihatku dalam kondisi demikian, bisa2 aku malu !. Tapi bagaimana dengan pemandangan indah disana yang aku sia-siakan untuk tidak melihatnya ? makin memikirkannya makin tegang kembali dedeku.

Tanpa diperintah, otakku mulai menerawang jauh, menghayalkan bagaimana aku tiba2 dipanggil oleh Tante Mala, kemudian Tante Mala menyuruhku masuk kekamarnya, menyuruh aku untuk tutup pintu dan menguncinya, kemudian dia menghampiriku yang masih tertegun melihatnya bugil, memelukku, menciumi bibirku bertubi2, membuka kemejaku secara kasar, memeloroti celana dalamku, meremas2 buah zakarku, memegang batang kemaluanku, menciumi serta mengulumnya, kemudian menarikku ke atas ranjang, dan memelas kepadaku untuk segera menyetubuhinya.
Dengan telentang diatas kasur, sambil memegang dan meremas kedua payudaranya yang besar dengan tangan kirinya berganti2, dibukanya pahanya lebar-lebar, memperlihatkan lobang kemaluannya yang begitu indah, dengan diatasnya ditumbuhi hutan yang lebat, meraba dan mengelus2nya dengan tangan kanannya, menatapku dengan pandangan mata sayu dan memintaku dengan sangat untuk memasukkan kemaluanku kedalam vag|nanya.
Membayangkan bagaimana kemaluanku keluar masuk kedalam vag|nanya, tanganku mulai mengurut, makin lama makin kencang, selang beberapa lama kemudian, aku melepaskan semua hasrat birahiku, memuntahkan lahar panas, demi menuntaskan keinginan yang terpendam.
Lemas.
Bangun setelah tidur siang, jam 7 malam, kudengar sayup2 ramai pembicaraan orang dibawah, malas aku untuk mandi, “nanti aja ah” pikirku. Kubasuh mukaku dan segera menuju ruang bawah, lengkap sudah semua, Tante Mala, dan anak-anaknya. Sang tante tampak sedang berbicara, sedangkan ketiga anaknya nampak cuek, pura2 mendengarkan namun mata tak lepas dari televisi.
Duh, jangan2 mereka sedang dimarahi nih, kalo aku turun kebawah, jangan2 keadaan makin runyam, bisa2 malah aku ikutan disemprot !. ragu aku untuk meneruskan langkah kakiku, niatku adalah berbalik kembali kekamar, namun baru aku menghentikan langkahku, mata tanteku memandang ke atas, memandang ke arah diriku.

“Fan, duh kamu, akhirnya bangun juga...., sini Fan “ Sapa Tanteku dan sambil melambai kearahku, mau tak mau aku bergerak menuruni tangga dan menghampirimya, berdebar hatiku, jangan2 aku disidang nih, gara2 peristiwa melihat penampakan tadi. “Fan, kamu antar Maya yah, dia katanya minta diantar ke toko buku, ada buku yang harus dibeli, karena ada tugas yang harus dikerjakan”, kata Tanteku kemudian. “Mau nyuruh Moza, dia bilang cape, baru pulang, Si Mita sama aja, banyak alesan, lagian si Maya, bukannya dari kemaren2 bilangnya, malah ngedadak gini, tadinya mau sama Tante, tapi kayaknya Tante kurang enak badan nih Fan, kmu mau kan ?” sambungnya lagi. “Iya Tante, boleh” jawabku, dalam hati aku bersyukur, bukan peristiwa tadi yang jadi pokok pembahasan. “Kamu pake mobil aja “ katanya lebih lanjut.

Tanpa mandi, aku segera berangkat mengantar Maya menuju toko buku, mulanya aku hendak mandi dulu, tapi Maya mendesakku supaya segera berangkat, “takut tutup tokonya” katanya, memang disini biasanya mall2 atau toko2 tutup jam 9 malam, dari rumah jam 7 lewat, perjalanan kesana memerlukan waktu satu jam. Masuk akal. Tapi dengan resiko aku tidak mengantarnya masuk, hanya menunggu dimobil, daripada nanti ada cewek ketemu disana terus ke-bau-an ma aku ? gak la yau !. mendingan nunggu di mobil sambil ngudud.

Selama perjalanan pergi, tidak banyak kami berbicara, mungkin karena aku juga masih mengantuk, nyawa belum lengkap sedangkan Maya juga masih Bete, mungkin karena capek ngerayu mama dan kakaknya, keliatan dari mimik mulutnya yang masih manyun.
Keluar dari toko buku jam 9 lewat, udah nunggunya lama, alesannya nyari bukunya susah, trus sempet2nya dia minta mampir ke temennya sebentar buat ngambil fotocopy tugas!, lah.. emang di sekolah ngapain aja neng ? jangan2 cuman cekakak cekikik doang. Sambil lirik2 cowok. Boro2 nyimak pelajaran !.

“Cieeee, barusan cowok kamu ya May ?, bilang aja kangen, mo ketemu, pake pura2 ngambil fotocopy segala !” godaku tatkala dia baru duduk disampingku, “Ih Aa, sapa juga yang punya cowok ?, gak kaleeee” sahutnya sambil mencubit pinggangku, namun kulihat dari raut wajahnya tampak tersenyum malu, “Iya juga gpp kok, gak bakal deh diaduin ma mama” kataku sambil mengedipkan mata. “Cerita-cerita dong ? rahasia dijamin deh”, kataku lagi, “ngambil fotocopy kok lama bener, jangan2 ngapa2in dulu nih di dalem !” godaku sambil ngakak. “Yee... mo tauuu aja deh “ jawabnya sambil memonyongkan mulutnya dan berusaha memalingkan mukanya ke kaca mobil disebelahnya, padahal kulihat gelap keadaan diluar sana, mo liat apaan ?.

“Ah sini coba, Aa periksa badan kamu, biar Aa percaya “, kataku lagi sambil menggamit dagunya yang menghadap jendela, agar berpaling kearahku, “Ih, Aa,,, Apaan sih ? ” katanya sambil berusaha mengelak dari gamitanku.
“Tuh kan.... hayooo” kataku lagi menggodanya. “Tuh, bibirnya kenapa tuh ?, kok kaya yang sariawan ?” sambil menunjuk ke bibirnya. Pancinganku kena, maya mulai memegang bibirnya, dan memeriksanya, aku tertawa sambil melengos menjalankan mobil. “Ich Aa dasar nih... godain aja... “ katanya sambil cemberut dan memukul pundakku.

“May, Aa laper nih, kita cari makanan dulu yuk ?” ajakku kepadanya, memang sedari siang tadi aku belum makan lagi, tak terasa perutku udah membunyikan genderang perang, cacing2 diperutku tampaknya sudah berteriak minta pasokan upeti. Kalo dulu waktu SMA aku memang dikenal dikelompokku atau gengku sebagai jarkem yang artinya “Jarang Keme” alias jarang makan, gengku ada belasan orang, terdiri dari siswa2 berbagai kelas yang membentuk kelompok tersebut tanpa sengaja tentunya. Kalo misalnya ada dari salah satu anak mendapat kabar bahwa dikelasnya ada yang berulang tahun maka artinya semua diundang, padahal kagak.....hehehe..!
Maka berbondong-bondonglah kami kesana, dengan membawa slogan “Pasukan Berani Malu”, dengan harapan adanya perbaikan gizi. Begitu sampai disana tanpa tedeng aling2 biasanya kami langsung bergerak menuju ke tempat dimana tersedianya makanan, walaupun tanpa ada petunjuk panah yang bertuliskan “Konsumsi”, biasanya daya penciuman kami cukup handal. Sampe2 ada beberapa anak yang menjuluki geng kami sebagai GPK, yang artinya Gerakan Pengacau Konsumsi. Ngucapin selamet ultah mah, ntar ajah…

Maya semula menolak ajakanku, katanya takut kemalaman dan nanti gak bisa menyelesaikann tugasnya, tapi akhirnya dia setuju juga karena mungkin gak tega ngeliat Aa-nya yang memasang tampang memelas dan seolah2 mau pingsan. Aku membelokkan mobil menuju suatu daerah tempat dimana terkenal akan pusat jajanan di kota B ini, dan biasanya buka 24 jam. Yang sebelumnya telah disepakati oleh Aku dan Maya. Tempat itu merupakan daerah terbuka, dengan parkir luas, sebetulnya tempat itu lebih tepat merupakan lapangan, dengan kumpulan pedagang2 jajanan kaki lima yang berjejer di tepinya. Dan biasanya ditempat itu pada salah satu sisinya selalu diramaikan dengan adanya panggung yang menyuguhkan aneka musik khas anak muda.

Setelah susah mencari parkir, akhirnya aku dapat juga tempat parkir walaupun agak mojok. Aku turun dari mobil setelah berpesan pada Maya untuk menunggu sebentar, berkeliling sejenak mencari makanan mana yang kira2 cocok untuk perutku malam ini. Setelah memesan makanan akupun kembali menuju tempat dimana mobilku terletak, kulihat Maya duduk di jok sebelah belakang kanan dimobil, akupun menghampirinya dan menyenderkan badanku disebelahnya sambil mataku mengikuti pandangan mata Maya ke arah panggung. Tak lama pedagang makanan yang menunya kupesan pun datang menghampiri kami, tapi ya ampun, sambil garuk2 kepala, aku bilang pada Maya bahwa aku lupa untuk memesan minumannya. “Ya udah, aa makan aja duluan, biar Maya aja yg pesen minuman”, katanya serta beranjak dari mobil dan pergi menuju tempat dimana yang berjualan minuman berada. Aku menggantikan duduk dimana ia semula duduk, Sambil menunggu Maya, aku makan dengan beringasnya (hehe.. laper banget !) sampai makananku habis.
Mungkin sekitar 5 menit setelah selesai makan, Maya yang kutunggu sejak tadi barulah nongol, dengan cengengesan dan pasang muka tak berdosa sebelum kutanya mengapa ia lama, dia sudah menjawabnya dengan berkata “Sorry A lama, tadi ketemu temen Maya disana, jadi ngobrol dulu deh.. “, “Yee,,,, dasar, bukannya balik dulu kesini, Aa seret nih…” kataku sambil bersungut dan mengambil minuman yang disodorkannya. “Sorry A.. sorry…, Aa kan cakep dan baek “, katanya lagi merayu agar aku gak marah. “Ya udah, kamu makan aja dulu, tuh makanannya ntar keburu dingin “. Kataku sambil menunjuk piring yang dibelakangku.

“Ya udah, sini“, katanya lagi. Mulanya aku hendak membalikkan badanku dan mengambilkan Maya makanannya, namun tiba2 dia sudah mendahuluiku dengan mengangsurkan tangannya, melewati celah antara badanku dengan jok bangku depan, meraih piringnya dan mengambilnya. kontan aku memiringkan kepalaku untuk menghindari benturan kepalaku dengan kepalanya, dan hasilnya adalah sikuku menyenggol payudaranya. Empuk pisan….
Seolah tak menyadari hal itu, dan aku juga pura-pura tak sadar akan hal itu, Maya tiba2 mengambil posisi ditengah2 kedua pahaku, “Geseran dikit A, maya juga mo makan sambil nonton” katanya lagi. Dengan reflek aku membuka celah antara kedua pahaku, tanpa dipersilahkan maya mengambil posisi duduk diantara celah kedua pahaku itu. Awww…

Sambil menyuap makanannya, matanya tak mau lepas dari panggung yang menyuguhkan band, matanya sesekali menunduk melihat kearah piring dan kemudian kembali mengarahkannya ke depan, tak peduli dengan keberadaanku. Aku yang semula acuh dengan keberadaannya, malah ia sering kusebut sebagai anak kecil, kolokan atau yang sejenisnya, tapi entah mengapa, mungkin karena posisinya yang duduk mepet denganku sehingga otomatis bokongnya merapat kearah dimana posisi dedeku mengorbit. Posisi tangan kananku adalah memegang botol minuman ringan yang masih tersisa lebih dari setengahnya, sedangkan tangan kiriku yang memang bebas, seolah didorong oleh rasa yang entah darimana datangnya, dan entah sejak kapan, melingkar di pinggang adik sepupuku ini.

Selesai ia makan, aku melepaskan tanganku yang melingkar dipinggangnya dan berpindah ke dengkulnya, hal ini jelas aku maksudkan apabila dia hendak beranjak dari duduknya yg seperti ini, tidak terlihat keinginanku untuk menahannya. Tapi bukannya dia beranjak bangun dia malah menaruh piringnya dibawah kakinya, otomatis membuat dia membungkuk, saat itulah tanganku yang tepat berada diujung pahanya, berada dalam himpitan, antara pahanya dan dadanya, kenyal dan keras.

Duh…hal ini jelas membuat otakku jadi miring, pikiran jadi melayang, membayangkan bagaimana rasanya, melingkarkan tanganku dipinggangnya, memeluknya erat, memasukkan tanganku kedalam kemejanya, menelusup diantara celah kancingnya terus memasuki BHnya, meremas gundukan bukit kembar yang baru memperlihatkan tanda kedewasaannya itu dan menikmati sensasinya untuk beberapa saat…., tak terasa hal ini membuat sesuatu di dalam celanaku menjadi mekar dan keras. namun kubuang jauh2 pikiran itu.


“May, balik yuk ah..,udah malem nih, nanti mama nyariin”, kataku seraya berusaha bangun dan memintanya untuk berdiri. “Yah Aa, lagi nanggung nih, lagunya bagus, sebentar lagi ya A… Sebentaaaar aja…” katanya kepadaku. “Ya udah sebentar lagi ya ? ” kataku menuruti kemauannya dan bergerak kebelakang mobil, bersender di pinggir bagasi belakang yang akhirnya juga mengarahkan badan dan kepalaku ke arah panggung.


“Duh.. lagunya enak, tapi yang nyanyi gak keliatan nih !“ gumamnya entah kepada siapa ditujukan, memang dari posisinya duduk tidak begitu jelas terlihat, penyanyi maupun personel di panggung tersebut. Aku menoleh kepadanya sekilas, nampak iya bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke arahku, aku seolah tak perduli dan melihat kembali ke arah panggung yang saat itu diisi oleh seorang penyanyi yang menurutku cukup cantik untuk dilihat.
Maya berdiri tepat didepanku, sebentar menghalangi pandanganku kearah panggung, kemudian dia mundur merapat ke badanku, menyenderkan badannya dibadanku, dengan posisi membelakangiku, memandang kedepan kearah panggung.



Dalam posisi seperti itu, tanganku yang semula berada didada bersidakap, kontan merubah posisi, menjatuhkan lengan kesamping dan membiarkan punggung Maya bersandar bebas didadaku, disusul kemudian dengan pantat Maya yang bersandar tepat didepan kemaluanku.
Naluri kelakianku laksana dibangunkan, sesuatu didalam celanaku yang beberapa menit lalu berusaha untuk diam menetralisir keadaan, berbalik bangkit kembali. Terhenyak aku menikmati sensasi yang datang tiba-tiba, tanpa disadari tanganku yang berada disamping, bergerak untuk menyambut keadaan tersebut, merengkuh badan Maya dengan memeluk mengelilingi pinggangnya.


Sepulang kerja tadi aku memang belum mengganti pakaian kerjaku, jelas pada saat itu aku masih memakai celana panjang katun, yang biasanya aku pakai untuk kerja. Begitu juga dengan Maya, saat itu dia mengenakan kemeja jeans dengan celana pendek jeans ketat pasangannya, pas. Otakku yang pada saat itu mungkin sedang error, atau memang ada sensasi lain, kurasakan kemaluanku seolah tepat berada dibelahan pantatnya, menyeruak mencari penetrasi lebih jauh.
Posisi kami parkir memang pada saat itu berada dipojok, sehingga jarang ada orang lalu lalang dekat kami, didepan kami ada mobil diparkir sejajar dengan mobil kami, nampaknya kosong, mungkin penumpangnya turun semua untuk menyantap hidangan disalah satu tenda makan disitu, apa peduliku.


Dipanggung terdengar jelas sang penyanyi menyanyikan lagu “Eternal Flame”nya The Bangles, yang menambah suasana semakin menjadi, entahlah. Aku semakin terhanyut, pelukanku terhadap Maya semakin kupererat, entah disadari atau tidak, Maya malah merebahkan kepalanya disamping kepalaku, bersandar pada bahuku, membuat jenjang lehernya terbuka, menunduk sedikit saja, bibirku pasti mengenai lehernya.

Pergerakan demikian jelas seolah mengundangku ingin menikmatinya lebih jauh, tanganku yang melilit pinggang dan perutnya, bergerak lebih keatas, punggung lenganku menyentuh bagian bawah payudaranya, tanganku bagaikan papan melintang yang bertugas menyangga sang payudara agar tak terjatuh. Maya seolah tak peduli dengan reaksiku, dia nampak serius menyimak lagu yang dibawakan penyanyi dipanggung itu, aku sendiri semakin tak perduli, pikiranku hanya satu, bagaimana menikmati sensasi ini, hingga terpuaskan.

Pantatku bergoyang seolah turut menikmati lagu yang dibawakan sang penyanyi tersebut, padahal kemaluanku berdenyut keras, mencari sensasi lain yang lebih nikmat, dalam pikiranku seakan Maya ikut menikmati sensasi yang kuberikan, ikut menggoyangkan pantatnya yang bulat dan besar, mundur kebelakang, memberikan lehernya untuk kucium dan mengarahkan tanganku untuk bergerak keatas menyentuh payudaranya yang ranum, semakin membesar dan mengeras serta memintaku untuk meremasnya. Maya seolah mengerti akan keinginanku, diraihnya pantatku dengan lengannya, menariknya dari belakang seolah menyuruhku untuk menempelkannya lebih rapat pada belahan pantatnya.

Entah apa yang dirasakan olehnya, fantasi liar yang mungkin telah kuberikan padanya seolah menghanyutkan dirinya, melirik mataku dengan pandangan sayu, antara menyuruhku terus untuk melanjutkan apa yang telah kumulai atau memintaku berhenti. Suara intermezo MC dipanggung seakan menyadarkanku atas apa yang terjadi, menghela napas yang tertahan, melepaskan semua napsu birahi yang menyengatku. Melepaskan pelukanku terhadapnya.

“May, lagunya sudah habis tuh, kita pulang yuk ?” kataku kepadanya.
Maya yang sepertinya enggan, namun menyadari bahwa hari telah larut, melangkahkan menjauhiku berputar menuju pintu depan kiri mobil, sekilas aku memandang sosok wanita muda bongsor dengan tubuh yang baru mekar ini, membuka pintu dan masuk kedalam mobil. Aku mengikutinya membuka pintu kiri mobil, duduk, menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya sekaligus, menyalakan mobil, menekan gas serta mengarahkannya kembali kerumah.

Tak ada percakapan yang terjadi didalam perjalanan kami pulang, aku seolah tak berani memandang gadis ini, segala pikiran berkecamuk dalam otakku, mengharapkan bahwa semua yang baru saja terjadi tidaklah benar2 terjadi, sesekali aku melirik Maya, pandangan matanya menghadap kaca disampingnya melihat kegelapan, sesekali mengikuti arah lampu yang kulewati, seolah2 ingin melupakan apa yang terjadi.

Tiba di depan rumah, pas didepan gerbang, aku hendak menyuruhnya turun untuk membuka pintu gerbang, namun kulihat matanya terpejam. Dengan terpaksa aku turun untuk mendorong pintu gerbang, memasukkan mobil ke garasi, membangunkannya, memberitahukan bahwa telah sampai dirumah.

Maya terbangun, mengucek-ngucek matanya, membuka pintu mobil, terus melangkah gontai menyusuri pintu samping menuju keatas ke kamarnya. Melanjutkan tidur, bukannya ngerjain tugas.
Memasuki rumah, kuarahkan pandanganku ke arah dalam, ruang keluarga nampak sepi, lampu tengah yang biasanya terang nampak telah dimatikan, hanya lampu yang menempel didinding yang hanya berkekuatan 5 watt, cukup untuk menuntun langkahku agar tak berbenturan dengan sisi meja. Kutaruh kunci mobil diatas buffet tempat dimana biasanya kunci2 berada, melangkah bergegas menuju tangga, menapakinya menuju ruang atas dimana kamarku berada, kulirik jam didinding ruang keluarga, jam 11 kurang 5 menit.

Tampak kamar tidur Tante Mala masih terang benderang, pintu terbuka lebar, ragu aku untuk melangkah melewatinya. Namun mau tak mau aku pasti melewatinya, melangkah aku dengan suara keras, berpura-pura mengeluarkan bunyi batuk pelan, mengharapkan Tante Mala mendengar kedatanganku, sehingga dia dapat bersiap apabila mengetahui keberadaanku. Siap apabila keadaannya tidak menguntungkannya, yang memberikan santapan kepada mataku, untuk segera membetulkannya.

“Fan, kok baru pulang ?, memang tadi mampir kemana dulu ?” terdengar suara Tante Mala seakan menghentikan langkahku ketika tepat melewati pintu kamarnya. Sejenak aku tertegun, mengarahkan badan menghadap pintu kamar, menatap ke arah sumber suara tadi. Kulihat Tante Mala duduk didepan meja rias, menghadap kaca, menyampingi diriku, memoles muka dengan kapas. Mengenakan baju tidur pendek warna putihnya, menampakkan keseksian seorang wanita dewasa yang mempesona.

Kaki kanannya diangkat, telapak kakinya ditaruhnya dibawah paha kirinya, seperti layaknya orang duduk bersila sebelah. Hal inilah yang membuat aku agak tercekat, dengan posisi seperti itu, baju tidur pendeknya jelas tidak dapat menutupi paha kanannya yang terlihat mulus, putih, dengan ditumbuhi bulu-bulu halus, jangankan mengelusnya, memandangnyapun membuat orang terangsang. Tangan kirinya diangkat memegang rambut panjangnya, agar tak menghalanginya memoles wajahnya itu.

Agak tergagap aku mencoba menjawab pertanyaannya, “Tadi abis dari toko buku, ngantar Mala ke tempat temennya dulu Tan, katanya ambil fotocopy, terus singgah makan dulu “ sahutku pelan sambil mencoba tersenyum, “Oh, ya udah, kirain kamu memang lama nunggu Mala, soalnya kebiasaan itu anak, kalo sudah pergi suka lupa waktu “, kata Tanteku melanjutkan dan tanpa melihat kepada diriku, “bener kamu sudah makan ?” katanya lagi. Aku mengangguk cepat, seolah ingin menyegerakan percakapan ini, padahal dalam hati ingin sekali aku menatap lebih lama pemandangan indah di depan mataku ini.

Kuarahkan kembali mataku kepadanya, kelihat tangan kirinya diturunkan, dan beliau mengangkat tangan kanannya untuk memegang rambutnya. Makin tertegun aku melihatnya, dari pintu dimana aku berdiri, kurang lebih 2 meter jaraknya dengan tante Mala duduk, terlihat jelas dari lubang lengan baju tidurnya, kuperhatikan lebih jelas, terlihat disana ketiak yang bersih tanpa ada bulu-bulu yang menghinggapinya, sisi kanan bagian payudaranya terlihat, menggantung anggun, tampak masih kencang dan menggairahkan.

Ada keinginan dari hatiku untuk segera berlalu dari situ, menepiskan segala pikiran-pikiran miring dari benakku, mengenyahkannya dari sebagian otakku. “Tan, kirain udah pulas, kok belum tidur ?” terlontar kata2 itu tanpa aku sadari, seolah terucap begitu saja, tanpa adanya perintah dari otakku. “Belum Fan... iya nih, tante belum ngantuk, padahal tadi siang memang capek banget !, lagian Tante Agak pusing nih” kata Tante Mala menyahuti pertanyaanku. “Mungkin Tante masuk Angin” kataku lagi, “Atau Tante tadi tidur siang kebanyakan kali, jadi belum ngantuk !”...... Dessss.. kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku, terhenyak aku begitu menyadari kata2 yang aku ucapkan barusan, Ya ampun, kok aku gak nyadar sih ?, dengan berkata begitu kan berarti aku mengingatkannya bahwa aku tadi siang melihatnya tidur tanpa baju !, menyaksikan kemolekan tubuhnya yang tergeletak di ranjang tanpa busana !. tanpa kusadari raut mukaku berubah semu, menunduk malu.

Untunglah Tanteku sepertinya tak melihat perubahan pada warna mukaku, tak melihat kearah tingkahku yang serba salah, “Iya kali Fan, sepertinya badan Tante agak pegal-pegal nih, agak ngilu” Jawab tante Mala kemudian, “Fan nanti tolong ambilkan Tante Obat ya ? Dibawah, didalam kotak obat, sekalian bawakan minyak gosoknya” Sahut Tanteku sambil berhenti mengusap wajahnya, menaruh kapas yang dipegangnya dalam bak sampah warna biru muda serta melihat kearahku, “Tapi lebih baik kamu ganti baju dulu gih sana, atau kamu mungkin mau mandi dulu “ katanya lebih lanjut.

“Iya tante, kayaknya saya mo mandi dulu, biar segar ” kataku lagi. Aku segera berlalu meninggalkannya, bergegas kekamarku, Mengambil handuk, dan segera memasuki kamar mandi.
Cuaca dingin malam hari tak begitu kurasakan, ditutupi oleh air hangat yang mengalir melalui pipa kran air kamar mandi. Sambil mengguyur badanku, pikiranku melayang mengingat-ngingat kejadian hari ini, “Duh, untung aku gak dimarahinya”, batinku berkata.

Selesai mandi, menggunakan seragam favorit tidurku, kaos buntung dan celana pendek hawai belel, aku bergegas keluar kamar, kedua kamar anak2 lampunya telah padam, menandakan bahwa penghuninya telah tertidur pulas. Melangkah pelan, sekilas kulihat Tante Mala sedang tidur2an dengan dada tertelungkup menghimpit bantal, ruangannya yang semula terang benderang dengan lampu utama, kini berganti dengan lampu tidur yang agak lebih redup, matanya menatap televisi yang berada didepan ranjangnya. Kulewati kamarnya dengan langkah cepat, menuruni tangga, mengarah ke dapur, menuju salah satu sisi dinding dimana biasanya kotak obat terletak. Setelah mencari beberapa saat, akhirnya aku mendapatkan obat yang dimaksud oleh Tante Mala, kembali kakiku melangkah menuju ruang atas.

Keketuk perlahan pintu kamar Tante Mala, “Tan, ini obat dan minyak gosoknya !” kataku sambil mengangsurkan benda yang kumaksud. Kulihat raut muka Tante Mala agak pucat, matanya agak sayu, berusaha bangkit. Dari posisinya yang tertelungkup, mengangkat badannya dengan mendorong kuat ranjang dibawahnya dengan tangannya, layaknya bayi yang berusaha merangkak. Namun saat itulah pemandangan yang benar2 indah terlihat, dengan bajunya yang berbelahan dada rendah, terlihat dari tempatku berdiri diseberang ranjangnya, dua buah bukit kembar menggantung indah, tanpa ada penghalang apapun, menghampiriku, menjuntai elok pada dada putih mulus pemiliknya.



“Duh, Fan, akhirnya, kamu datang juga, makasih Fan, Tante udah gak tahan nih, pusing banget,....tolong sekalian ambilkan minum tante di meja itu ya Fan” Kata Tante Mala sambil meraih obat yang kusodorkan serta menunjuk ke sebuah meja dimana terdapat gelas berisi air putih berada. Aku segera mengambilkan gelas yang dimaksudkannya, kembali menyodorkannya kepada tanteku yang langsung meminumnya.

Obat yang kuberikan, sepertinya adalah obat flu, sempat tadi kuperhatikan, kandungan didalamnya yang berisi paracetamol 500 Mg dan campuran lainnya. Kaget juga aku melihat Tante Mala minum obat tersebut, karena kuperhatikan beliau minum obat tersebut sekaligus 2 butir, itu terlihat dari sisa strip obat yang disodorkan kepadaku, tadi kulihat satu strip berisi 4 tablet, tapi kok sekarang tinggal 2 ?. “Tan, kok minumnya sekali 2, emangnya Tante gak takut ? kan kalo dosisnya berlebihan dapat menyebabkan kerusakan hati Tan ?” kataku sok tahu, padahal emang iya, suka aku baca kok dipetunjuk2 pemakaian obat, di dinding apotik, kalo lagi nunggu nebus obat (kok ditebus ? emang obat kita diculik trus apotekernya minta tebusan?), dan disebelahnya ada cewek cakep, kali aja bisa buat bahan modal kenalan.....pura2 serius baca itu tulisan, pasang mimik muka lagi mikir, pura2 mundur terus nyenggol tuh cewek, minta maaf dengan muka menyesal, trus ngajak kenalan deh....hehe..

“Gapapa Fan, udah biasa kok, kadang kalo cuma minum satu, suka gak berasa, soalnya Tante pusing banget nih !” kata Tanteku menjawab. “Oh ya udah, Tante tidurin aja, istirahat, mungkin besok bisa lebih segar” Kataku lagi dan bermaksud untuk keluar dan kembali ke kamarku. “Hmmm ... Fan, Tante bisa minta tolong sekali lagi gak ?”, berkata Tante Mala seolah mencegahku untuk keluar kamarnya begitu aku hendak berbalik melangkah. “Iya Tante, Boleh “ jawabku lagi sambil menengok kembali ke arahnya.
“Kamu sudah ngantuk belum ?” tanyanya lagi, “Tolong pijitin Tante dong Fan ?, kepala Tante pusing banget nih !, Mau ya ? soalnya tadi Tante mau nyuruh bi Iyem, dia udah pules, keliatannya dia capek sekali “, belum sempat aku menjawabnya, dia sudah menimpalinya lagi. Aku rasa ini adalah permintaan tegas yang lebih tepat dikatakan perintah halus, bukan merupakan suatu pertanyaan dimana yang bersangkutan bisa menjawabnya dengan kata “Tidak”.



Entah apa yang ada didalam pikiranku, sepertinya semuanya menjadi “Blank”, ada rasa keengganan untuk melakukannya, disisi lain ada pula rasa tidak enak untuk menolaknya. Enggan, karena biar bagaimanapun dia adalah seorang wanita yang bukan muhrimku, untuk memasuki kamarnya saja, sesungguhnya aku merasa sungkan. Kalo memang tidak terlalu penting, biasanya aku hanya sampai batas pintu kamarnya saja, kecuali ada orang lain didalam kamar tersebut yang kupikir dengan adanya orang ketiga, maka tidak akan menjadi fitnah diantara kami.

Tapi kali ini beda, saat ini didalam kamar hanya ada aku dan Tante Mala berdua, tidak ada orang lain di rumah ini yang masih dalam keadaan terjaga, haruskah aku membangunkan salah satu dari mereka untuk menjadi orang ketiga, sehingga dapat mencegah timbulnya fitnah ?. ataukah aku harus menolak permintaannya ? tapi dengan alasan apa ? tegakah aku menolaknya ?, sementara didepanku ada seorang wanita yang tampak terlihat menahan sakit memintaku menolongnya. Bukankah selama ini aku tinggal dirumahnya tanpa harus membayar apapun ?, Apa imbal balikku kepadanya ?, padahal ia hanya meminta kepadaku sekedar memijitnya ?.

“Ya udah tante, sini saya pijitin, tapi saya gak terlalu bisa mijit, kalo sekedar mijit biasa aja mungkin saya bisa Tan “ kataku meluncur begitu saja, dan kembali menghampiri sisi ranjang tempat tidurnya. Mulanya aku berpikir dia akan beringsut kesebelah tepi ranjang dimana aku berdiri, duduk diranjang, sementara aku memijit kepalanya sambil berdiri. Yang ada dibenakku adalah, bahwa Tante Mala saat ini sedang tidak enak badan, kepalanya pusing, jadi yang minta dipijit adalah kepalanya, bukan yang lainnya.

Namun yang terjadi adalah, bahwa Tante Mala saat itu tidak beringsut menggeserkan badannya menghampiriku, tapi hanya duduk berputar membelakangiku menghadap kaca riasnya. Hal ini tentu saja membingungkanku, bagaimana aku harus memijitnya ? sedangkan tanganku saja tidak sampai !. “Kamu naek aja ke tempat tidur Fan”, berkata Tante Mala sambil melirik kearahku seolah mengerti akan kebimbanganku. Setengah ragu aku mengangkat kakiku, menaiki ranjangnya dan seolah berjalan dengan kedua dengkulku menghampirinya.

Aku segera melakukan pijitan-pijitan halus dikepalanya, seperti yang sering dilakukan tetanggaku. Dalam posisi seperti ini, jelas agar dapat menggapai seluruh bagian kepala Tante Mala, aku harus bertumpu kepada kedua dengkulku (ini nih kali ya, yang dibilang modal dengkul !), aku memang kerap melihat tetanggaku melakukan adegan seperti ini (adegan ? emang syuting ?), kalo pagi menjelang siang, saat tetanggaku pulang dari “dinas malam”, ia sering mengatakan ini pada semua orang, biar keren katanya, padahal kerjanya cuma jadi hansip yang emang tugasnya jaga malam, palingan jaga siang kalo lagi pas ada warga yang hajatan aja, ntu juga kalo disediain kopi ma dikasih uang jaga, kalo enggak mendingan dia ngilang, alesan ada acara keluarga, atau badan lagi meriang !.
Ia suka minta tolong pada tetanggaku yang lainnya untuk memijitnya, asal ada bungkusan rokok (mo isi tinggal sebatang kek !) dan ada piring gorengan (kadang tinggal minyaknya doang !) tergeletak didepannya, pasti mau !. Biasanya kalo lagi begini suka banyak yang ikutan nimbrung, dengan alasan turut berbela sungkawa atas masuk anginnya sang hansip padahal pengen ikutan nyicip !. (jangan ketawa ato senyum, ntar mupenglo ilang !!!)

Kembali ke permasalahan mijit. 

Chose Your Language

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic

Entri Populer